Perubahan Kurikulum dan Menghindari Generasi Bongkok

Pemerintah merencanakan tahun 2010 akan melakukan revisi Kurikulum pada Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Revisi ini sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan sekaligus untuk menyesuaikan kurikulum  dengan keinginan peserta didik dan orang tua siswa, termasuk pengguna. Kurikulum yang ada saat ini adalah kurikulum tahun 2006. Meskipun baru berjalan selama empat atau lima tahun memang sepantasnya dilakukan revisi. Idealnya kurikulum ditinjau ulang setelah tiga tahun berjalan, karena perubahan-perubahan yang terjadi sangat begitu cepat. Berbeda dengan tahun 1970-an atau 1980-an yang memakai kurikulum selama sepuluh tahun. Hal ini terjadi, karena sebelumnya perubahan yang terjadi tidak begitu cepat, sehingga kurikulum yang ada masih layak dipergunakan.

Perkembangan lingkungan pendidikan seperti teknologi, kemudahan akses pengetahuan, hilangnya batas-batas antar negara dengan masuknya pendidikan asing ke Indonesia, mengakibatkan perlunya dilakukan penyesuaian secara berkelanjutan. Jika tidak ingin menjadi penonton di negeri sendiri, telah seharusnya sistem pendidikan kita yang salah satunya adalah kurikulum disesuaikan secara terus-menerus. Pandangan pakar pendidikan terkait hal ini sudah banyak dilakukan, masalahnya adalah seberapa besar para pemangku kebijakan memiliki kemauan untuk mengaplikasikannya.

Masyarakat sebagai pelanggan pendidikan menantikan bagaimana kira-kira wajah kurikulum pada tingkat satuan pendidikan ini. Tentunya hal ini terkait dengan bentuk revisi yang dilakukan nanti. Paling tidak ada dua pertanyaan, pertama, apakah revisi dilakukan hanya menambah atau mengurangi nama dan jumlah mata pelajaran? Kedua,  apakah revisi akan merubah sama sekali format kurikulum tingkat satuan pendidikan? Jika yang dilakukan adalah yang pertama, maka tidak akan banyak perubahan yang terjadi terkait mutu pendidikan kita. Sebaliknya, jika yang dilakukan adalah yang kedua, maka diskusi-diskusi publik secara terencana (strategic planning) harus dilakukan diantara para pelaku, praktisi, pendidik, pemerhati pendidikan dan pemangku kebijakan. Tujuannya adalah agar dihasilkan suatu bentuk kurikulum yang dapat merespon semua kearipan lokal dan perubahan global. Apalagi, pasca otonomi daerah, bidang pendidikan telah diserahkan kepada daerah kabupaten/kota.  Tulisan ini ingin mencoba memberikan pertimbangan bagi penyusunan kurikulum pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Alasannya adalah bahwa kunci seorang murid atau siswa menjadi bermutu atau tidak ke depan sangat tergantung pada peletakan fondasi dasarnya. Falsafah Batak yang cocok untuk ini berbunyi,” salah mandasor sega luhutan.” Jika kita salah meletakkan fundasi dasar kepada murid SD, maka besar kemungkinan dia tidak memiliki arah masa depan yang jelas dan akan gagal menjadi manusia yang bermutu.

Wajah Kurikulum SD

Melihat kurikulum SD yang ada saat ini, ada dua kesimpulan yang saling bertolak belakang. Pertama, mestinya murid SD dengan mata pelajaran yang sangat banyak dan beragam itu sudah menjadi manusia yang super. Kedua, dengan jumlah mata pelajaran yang ada saat ini, ada anggapan bahwa murid SD adalah manusia super. Bayangkan saja, bahwa seorang murid SD setiap tahunnya selama enam tahun harus mempelajari dan menguasai sekitar 11 mata pelajaran, yakni, 1. Matematika, 2. IPA, 3. IPS, 4. PPKN, 5. Bahasa Indonesia, 6. Bahasa Inggris, 7. Pendidikan Agama, 8. Pendidikan Jasmani, 9. Seni Budaya dan Ketrampilan, 10. Budi Pekerti, dan 11. Pengetahuan Komputer. Padahal, secara psikologis, seorang anak  dapat saja suka dan senang atas mata pelajaran yang bersifat Eksakta, tetapi kurang tertarik dengan mata pelajaran Sosial dan Bahasa, demikian sebaliknya. Oleh karena mata pelajaran pilihan tidak ada, mau tidak mau si anak dipaksa harus mempelajari semuanya. Bisa dibayangkan bagaimana hasil yang dicapai oleh si murid untuk mata pelajaran yang tidak disukainya.

Tampaknya memang si anak sepertinya menyukai semua mata pelajaran, tetapi kita lupa bahwa mereka menyukainya karena takut kepada gurunya. Jadi, ukurannya adalah bukan si anak mau atau tidak untuk mengikuti semua mata pelajaran, tetapi kita yang tahu pendidikan dan aspek psikologis inilah seharusnya berfikir dan mendisain kurikulum yang cocok. Lihat saja, seorang murid atau siswa SD, SMP dan bahkan SMA ketika ditanya mau menjadi apa kelak, tidak memberikan jawaban yang tegas dan jelas. Demikian halnya seorang murid SD tidak dapat menggambarkan kira-kira bagaimana dirinya 20 tahun ke depan. Padahal, dengan mengetahui sejak dini cita-citanya, maka langkah-langkah untuk mencapai cita-cita itu akan mudah dilakukan. Misalnya jika mau menjadi dokter, maka yang ditekankan adalah mata pelajaran Eksakta, sedangkan yang lainnya adalah pilihan.

Skenario Perubahan

Hal-hal di atas, baru dapat dilakukan jika kurikulum SD dirubah secara total. Setidaknya ada 2 skenario yang dapat dilakukan. Skenario pertama, dengan melakukan perumpunan/pembidangan yang diterapkan mulai  kelas IV, yaitu bidang Eksakta, Sosial dan Bahasa.  Mata pelajaran rumpun eksakta adalah : 1. IPA, 2. Matematika, 3. Agama, 4. Penjas, 5. Bahasa Indonesia, 6. IPS, lainnya adalah pilihan maksimum 2 mata pelajaran. Rumpun Sosial terdiri atas : 1. IPS, 2. PPKN, 3 Matematika, 4. Agama, 5. Penjas, 6. Bahasa Indonesia, lainnya adalah pilihan maksimum 2 mata pelajaran. Untuk rumpun bahasa terdiri atas : 1. Bahasa Indonesia, 2. Bahasa Inggris, 3. Matematika, 4. Agama, 5. Penjas, 6. IPS. Lainnya adalah pilihan maksimum 2 mata pelajaran.

Skenario kedua, adalah dengan tetap seperti sebelumnya, tetapi mengurangi jumlah mata pelajaran menjadi sekitar 8 saja, yakni 1. IPA. 2. Matematika, 3. IPS, 4. Bahasa Indonesia, 5. Agama, 6. Penjas, 7. Bahasa Inggris dan 8. Ketrampilan. Mata pelajaran lainnya dapat dilebur dengan mata pelajaran yang ada, misalnya PPKN dapat dimasukkan materinya di IPS; mata pelajaran Komputer adalah bagian dari ketrampilan, dan Budi Pekerti dimasukkan materinya pada pelajaran Agama. Setidaknya, ada dua hal yang dapat dicapai dengan melakukan ini, pertama, pendidikan si anak akan semakin terarah. Kedua, dengan pengurangan jumlah mata pelajaran akan mengurangi jumlah buku yang harus dibawanya dalam tas ransel yang setiap pagi berada di pundaknya dan naik ke lantai II atau III gedung sekolahnya,  kita akan menyelamatkan anak-anak dari generasi bongkok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: