DPR sebagai Lembaga Terbuka : Beri Apresiasi pada Kalangan Artis

Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif usai sudah. Penetapan para calon legislatif (caleg) terpilih yang bakal melenggang ke Senayan pada umumnya telah dapat diperkirakan. Penghitungan dan penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) atas perolehan suara yang diraih oleh tiap-tiap Partai Politik (Parpol) pada tanggal 9 Mei lalu menjadi dasar untuk menentukan perolehan kursi, khususnya bagi parpol yang lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold).

 

Berdasarkan penetapan KPU Partai Demokrat meraih 148 kursi (26,43%); Partai Golkar 108 kursi (19,29%); PDIP 93 kursi (16,11%); PKS 59 kursi (10,54%); PAN 42 kursi (7,50%); PPP 39 kursi (6,95%); GERINDRA 30 kursi (5,36%); PKB 26 kursi (4,64%) dan HANURA 15 kursi (2,68%). Ada perbedaan jumlah suara yang diperoleh oleh sebuah parpol dibandingkan dengan perolehan kursi. Perbedaan ini terjadi karena suara yang diraih parpol tersebut menumpuk di suatu daerah pemilihan yang bilangan pembagi pemilihnya lebih besar, seperti di pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan suara dan jumlah kursi yang diperoleh oleh PKB dan GERINDRA. Untuk perolehan suara PKB meraih 4,94% dan berada pada nomor urut 7, namun kursinya hanya 26 kursi. Sedangkan GERINDRA yang memperoleh 4,46% suara dan berada pada urutan 8 justru meraih 30 kursi DPR. Penyebabnya tidak lain adalah cara penghitungan jumlah kursi yang ditetapkan sesuai Peraturan KPU No. 15 Tahun 2009 yang dalam prakteknya tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan pada Pemilu 2004.  Makna tersirat dari pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilu Legislatif yang kemudian menjadi UU No. 10 Tahun 2008 tidak dijalankan, yakni soal bagaimana menentukan sisa suara yang seharusnya hanya dibagi oleh parpol yang memperoleh suara 50% ke atas pada suatu daerah pemilihan.

 

Sambil menunggu keputusan final dari KPU tentang perolehan kursi yang sesungguhnya bagi tiap-tiap parpol dan juga keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mulai disidangkan pada 13 Mei 2009, ada hal-hal yang menarik dari hasil pemilu legislatif kali ini. Fakta menunjukkan bahwa lebih kurang 80% anggota legislative 2009-2014 yang akan melenggang ke Senayan adalah wajah baru (new comer), termasuk dari kalangan artis atau selebritis. Para selebritis dimaksud sebut saja Nurul Arifin (Partai Golkar), Primus Yustisio (PAN), Vena Melinda (Partai Demokrat), Rieke Dyah Pitaloka (PDIP). Masuknya para selebritis ke Senayan banyak mendapatkan respon yang kebanyakan bernada miring. Pertanyaannya adalah apa yang salah dari masuknya sejumlah artis menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)? Bagaimana kira-kira kinerja DPR RI 2009-2014 ? Bagaimana menata sistem rekrutmen para caleg untuk pemilu mendatang? Tiga hal inilah yang dicoba untuk didiskusikan.

 

DPR sebagai Lembaga Terbuka

 

Pertanyaan pokoknya adalah siapa yang paling berhak dan pantas untuk menjadi anggota DPR ? Jawabannya pastilah semua warga negara Republik Indonesia yang telah berhak untuk memilih dan dipilih serta memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Tidak ada peraturan yang membatasi bahwa DPR harus dihuni oleh mereka yang berlatang pendidikan, profesi apalagi komunitas tertentu.  Di negara maju seperti Amerika juga tidak ada larangan bagi kalangan selibritis misalnya, untuk menjadi anggota parlemen. Hanya saja di negara tersebut seseorang yang ingin menjadi politisi harus benar-benar terjun secara 100%. Menjadi politisi adalah sebuah pilihan atau profesi. Sementara di Indonesia menjadi politisi belum sepenuhnya merupakan profesi  atau masih dijadikan “pekerjaan” yang aji mumpung. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya pertimbangan rekam jejak seseorang (track record) untuk diajukan menjadi caleg. Ada yang sebelumnya pengusaha tiba-tiba terjun ke dunia politik yang walaupun kedua profesi ini  bertolak belakang. Mereka-mereka ini setelah menjadi anggota DPR tidak dipermasalahkan. Akan tetapi, ketika para artis rame-rame menjadi caleg dan kemudian  akan menduduki kursi di DPR, banyak komentar yang meragukan kemampuan mereka.

 

Barangkali keraguan para pengamat dan elemen masyarakat terhadap para artis ini adalah kemampuannya dalam menjalankan tugas-tugas sebagai anggota DPR. Sebagai artis memang mereka selalu memerankan sesuatu berdasarkan tuntutan skenario, sebaliknya menjadi anggota DPR adalah memerankan suatu realita yang sesungguhnya, yakni bagaimana merancang atau menyusun sebuah rancangan undang-undang menjadi undang-undang yang dapat menjadi payung hukum bidang tertentu tanpa diskriminasi. Selain itu, bagaimana menyampaikan problem publik ke pemangku kepentingan seperti pemerintah dan tugas berat serta mulia lainnya. Bagi kita yang terpenting adalah bagaimana anggota DPR dari kalangan artis mau belajar dan benar-benar meninggalkan profesi lamanya selama mereka menjadi anggota dewan.

 

Tanggung Jawab Partai Politik

 

Parpol yang mengajukan para caleg, tidak saja dari kalangan artis, yang akan dilantik menjadi anggota DPR mempunyai kewajiban untuk memberikan pembekalan melalui berbagai pelatihan. Waktu yang ada hingga beberapa hari sebelum pelantikan para calon anggota DPR, harus dimanfaatkan dengan baik. Memang parpol yang lolos ambang batas parlemen pada waktu yang sama akan sangat sibuk dalam pencalonan dan pemilu presiden dan wakil presiden yang akan dilangsungkan pada 8 Juli 2009. Untuk itu, parpol harus pandai-pandai membagi waktu, sehingga para caleg yang akan baru duduk di DPR setelah pelantikan langsung dapat menjalankan tugasnya dengan baik (running well).

 

Sama seperti ketika pada acara Indonesian Idol, Kontes Dangdut Indonesia, Mama Mia, sampai kepada Dream Girls, setelah lulus seleksi, mereka semua yang lolos dikarantina untuk dilatih olah vocal, gaya, kepercayaan diri, penampilan dan sebagainya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka dapat bernyanyi dan tampil dengan baik selama kompetisi berlangsung. Hal seperti ini pulalah yang patut dilakukan oleh parpol bagi seluruh calegnya, khususnya yang baru pertama sekali menjadi anggota DPR.

 

Konsistensi Partai Politik dalam Penentuan Caleg

 

Pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Parpol biasanya ada pasal yang mengatur bahwa seseorang baru dapat diajukan sebagai caleg setelah lebih kurang lima tahun menjadi anggota partai. Hal ini tentunya menjadi pengecualian bagi parpol yang baru didirikan menjelang pemilu dan langsung ikut pemilu. Melalui rentang selama lima tahun diharapkan seseorang akan melewati masa sosialisasi dan pemantapan diri sebagai calon politisi. Paling tidak seseorang dapat meniti karir menjadi kader  ataupun pengurus parpol.

 

Masalahnya, dalam praktek aturan itu kurang tegas diterapkan, sehingga mereka yang dianggap memiliki basis massa, uang yang cukup, popularitas, langsung dapat diajukan sebagai caleg meskipun belum melewati masa lima tahun sebagai anggota partai. Banyak argumen yang dilontarkan para pengurus yang pada akhirnya merubah AD/ART menjadi lebih lunak sekaligus mengakomodasi kondisi yang ada.

 

Peristiwa perekrutan caleg pada pemilu legislatif lalu adalah buktinya. Kepopuleran, basis massa dan modal uang yang cukup menjadi pertimbangan utama daripada masa keanggotaan seseorang. Karenanya, apa yang selama ini disetir bahwa parpol di Indonesia, baik yang lama maupun yang baru, bersifat pragmatis, yaitu bagaimana mencapai tujuan sesaat tanpa melihat dampaknya di masa depan. Akan tetapi parpol selalu membela diri dan menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah pertimbangan rasional.

 

Untuk itu, jika kita ingin menjadikan lembaga DPR berkualitas harus menyentuh akar masalahnya. Akar masalahnya ada pada parpol itu sendiri dan bukan pada orang yang dicalonkan. Secara gradual, parpol harus berani merubah paradigma dari partai yang berbasis massa menjadi berbasis kader. Mungkinkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: