Strategi Memasarkan Diri : Curah Pikir Bagi Calon Anggota DPR, DPRD dan DPD

Hiruk pikuk pemilihan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sangat terasa pada 9 April 2009 yang akan datang. Paling tidak ada tiga alasan utama yang mendasarinya, pertama, jumlah Partai Politik (Parpol) yang akan mengikuti Pemilihan Umum (Pemilu) calon anggota DPR, DPRD dan DPD berjumlah 38 Parpol Nasional dan 6 Parpol Lokal (khususnya di Nangroe Aceh Darussalam). Dibandingkan dengan Pemilu calon anggota legislatif tahun 1999 memang jumlah Parpol peserta Pemilu ini masih lebih kecil, yang jumlahnya 48 Parpol. Namun, yang membedakannya adalah bahwa beberapa Parpol baru yang muncul pada Pemilu 9 April 2009 nanti memiliki suatu kekuatan yang melebihi atau bahkan akan menyeimbangi Parpol yang telah mengikuti Pemilu tahun 1999 dan 2004. Hal ini dapat dilihat dari  saat pertama sekali Parpol baru itu dibentuk mampu berdiri di atas 75 % propinsi dan bahkan di 100 % atau 33 propinsi. Membentuk sebuah Parpol baru dan langsung berdiri di 75% sampai dengan 100% propinsi bukanlah perkara yang mudah. Paling tidak dibutuhkan waktu yang banyak, pengorganisasian yang matang, kepercayaan publik dan tentu saja dana (baca : uang) yang tidak sedikit, untuk dapat melakukan hal yang demikian. Parpol baru tipe seperti ini tentu memiliki basis dukungan yang cukup tinggi untuk berkompetisi pada Pemilu yang akan datang. Tanda-tanda itu sudah dapat dilihat dari jumlah calon anggota (caleg) legislatif yang diajukan termasuk profil orang-orang yang dicalonkan. Selain itu, iklan yang sangat gencar dilakukan, baik di media elektronik maupun cetak, membuktikan argumen tadi.

 

Kedua, adanya perubahan sistem dalam menentukan syarat dan siapa yang akan ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi anggota DPR atau DPRD sesuai Undang-undang (UU) Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPRD dan DPD. UU ini menentukan bahwa untuk dapat ditetapkan sebagai anggota DPR dan DPRD seorang calon harus meraih suara minimal 30 % dari Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Jujur saja bahwa syarat ini tentunya akan menguntungkan calon nomor urut kecil, alasannya bahwa untuk meraih 30 % suara dari BPP bukanlah perkara yang mudah. Hal ini sudah dibuktikan pada pemilu tahun 2004. Akan tetapi, yang menjadi menarik adalah adanya klausul pasal 218 ayat (1) butir b yang memberikan peluang bahwa Partai Politik dapat menentukan siapa yang akan diusulkan sebagai anggota DPR atau DPRD untuk ditetapkan KPU. Pasal ini membuka peluang dengan menetapkan bahwa seorang calon dapat diganti oleh Parpol apabila mengundurkan diri. Alasan inilah yang menjadikan beberapa Parpol membuat peraturan tersendiri atau tidak otomatis lagi mengikuti syarat minimal 30 % suara dari BPP, melainkan menggantikannya dengan  perolehan suara terbanyak. Artinya, tanpa melihat nomor urut calon, bahwa setiap calon yang meraih suara terbanyaklah yang akan diajukan Parpol untuk ditetapkan KPU sebagai anggota DPR atau DPRD. Peraturan Parpol ini mereka tuangkan dalam Peraturan DPP Partai. Sebut saja misalnya Partai Amanat Nasional, Partai Demokrat dan Partai Golkar yang akan menerapkan ketentuan seperti ini.

Ketentuan internal Parpol di atas tentunya akan semakin mempertinggi kompetisi di antara calon anggota DPR atau DPRD. Tidak saja mereka akan berkompetisi dengan calon dari Parpol lain, melainkan juga dengan sesama rekan satu partai.  Jika untuk berkompetisi dengan calon dari Parpol lain tentunya akan sangat mudah mengatur strategi kampanye. Profil dan kekuatan partai yang mencalonkannya dapat dijadikan alat yang dapat memperngaruhi pemilih. Masalahnya adalah ketika dia akan berkompetisi dengan sesama rekan satu partai. Selain baru, pastinya harus dicarikan terobosan (breakthrough) baru, selain tentunya akan membutuhkan energi ekstra pula.

Ketiga, UU No. 10 tahun 2008 yang memperbolehkan calon anggota DPD yang berasal dari unsur Parpol. Hal ini tentunya menjadi berbeda dari Pemilu calon anggota DPD tahun 2004 yang pesertanya benar-benar adalah mereka yang bukan anggota Parpol (non-partisan). Ketentuan baru bagi calon anggota DPD ini pasti akan menambah kompetisi yang tinggi di antara para calon, meskipun banyak orang mengatakan bahwa ketentuan ini tidak fair. Dikatakan demikian, karena calon anggota DPD yang berasal dari Parpol tertentu pasti akan lebih mudah meraih pemilih daripada calon anggota DPD yang sebaliknya. Alasannya, para calon anggota DPD yang berasal dari Parpol akan menggunakan mesin politiknya dan dapat secara bersama-sama dengan calon anggota DPR atau DPRD dari Parpol yang sama untuk melakukan kampanye bersama. Sementara, calon anggota DPD yang bukan berasal dari Parpol tentu akan melakukan cara-cara yang dikelola sendiri bersama tim pemasar diri (TPD). Namun demikian, tidak ada jaminan atau kepastian bahwa calon anggota DPD yang berasal dari Parpol tertentu akan menang dalam pemilihan nanti dibandingkan calon anggota DPD yang bukan berasal dari Parpol tertentu. Sebab, bisa saja kredibilitas Parpol yang mengusungnya kurang mendapat simpati dari pemilih yang kemudian akan berdampak terhadap calon anggota DPD tersebut. Ingat peristiwa antara David dan Goliath.

 

Tujuh Langkah Strategis Meraih Suara Pemilih

 

Istilah strategi tentunya bukanlah hal baru bagi kita. Banyak referensi yang dapat kita baca untuk mengartikan apa itu strategi. Jelasnya, strategi itu terkait dengan cara-cara yang paling mudah dan tepat dalam mencapai sasaran (objective). Sasaran para calon anggota DPR, DPRD dan DPD ini sangat jelas, yakni bagaimana meraih suara sebesar-besarnya sehingga dapat ditetapkan menjadi anggota DPR, DPRD dan DPD. Kata strategi banyak digunakan dalam ilmu manajemen, karena strategi memang digunakan untuk hal-hal yang sifatnya lebih operasional (instrumental). Karenanya, dalam dunia politik paduan kata manejemen politik – yang bagiannya adalah strategi memasarkan diri para calon anggota DPR, DPRD dan DPD – menjadi sangat populer saat ini. UU No. 10 Tahun 2008 menambah semakin populernya istilah manajemen politik (belum lagi jika kita tambah dengan adanya pemilihan presiden/wakil presiden dan pemilihan kepala daerah secara langsung).

Ada tujuh langkah strategis yang dapat dilakukan oleh setiap calon anggota DPR, DPRD dan DPD dalam meraih suara pemilih pada Pemilu 9 April 2009. Pertama, perkenalkanlah diri (wajah) saudara kepada publik, apakah langsung atau tidak langsung melalui media cetak atau elektronik dengan melakukan berbagai kegiatan seperti kegiatan ilmiah, sosial, budaya dan keagamaan. Kegiatan ilmiah dapat dilakukan dengan menjadi narasumber pada sebuah seminar, diskusi, workshop atau menulis artikel di media dengan menyertakan foto diri saudara. Paling tidak, segmen yang mau diraih adalah kaum intelektual. Kegiatan sosial dapat dilakukan dimulai dari lingkungan dimana kita berada. Berbagai kegiatan sosial di lingkungan saudara harus diikuti apakah  acara suka maupun duka, di kelompok klen (marga) saudara, tempat kerja saudara dan lingkungan yang lebih luas lagi. Paling tidak segmen pemilih yang hendak kita raih adalah warga di sekitar saudara, meskipun tidak tertutup untuk pemilih di luar lingkungan saudara tinggal. Kegiatan budaya dapat dilakukan dengan mengikuti berbagai upacara adat, paling tidak untuk klen saudara sendiri. Segmen pemilih yang hendak diraih adalah klen saudara sendiri. Untuk kegiatan keagamaan dapat dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga ataupun kelompok-kelompok keagamaan yang ada, terlepas dari agama yang kita anut. Segmen pemilih yang hendak kita raih adalah mereka yang tingkat spiritualitasnya sangat tinggi. Semua kegiatan yang dilakukan sedapat mungkin  diekspos melalui media elektronik ataupun cetak. Hal ini bertujuan agar publik pemilih dapat merekam kegiatan yang pernah saudara lakukan selama ini.

Kedua, buatlah website atau blog saudara. Pada era dunia maya sekarang ini, manfaat website atau blog sangat ampuh dalam meraih pemilih. Barack Obama sudah membuktikannya. Memang khusus untuk kita di Indonesia bisa jadi cara ini belum akan banyak membantu, dengan alasan bahwa persentase masyarakat kita yang mampu dan mau mengakses dunia maya (internet) masih sangat rendah. Namun demikian, melalui cara ini orang akan semakin percaya terhadap kredibilitas saudara bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terus saudara ikuti dan mampu beradaptasi. Ingat bahwa pernah diberitakan di media bahwa masih ada para anggota DPR, DPRD dan DPD yang masih gagap teknologi (gatek). Apabila kita melakukan survei tentunya akan didapatkan adanya di antara mereka yang belum memiliki website atau blog. Padahal media ini dapat dijadikan alat komunikasi yang efektif dengan sesama anggota dewan lainnya di berbagai daerah dan atau bahkan dengan anggota parlemen di luar negeri, sehingga kunjungan-kunjungan yang bernama studi banding dapat dikurangi. Melalui website atau blog pribadi, saudara dapat memajangkan foto dan menulis tentang apa saja yang saudara anggap bermanfaat bagi publik. Segmen pemilih yang hendak diraih adalah para pemilih pemula – siswa SMA atau mahasiswa – yang memang lebih besar frekwensinya dalam mengakses internet. Kemungkinan pertanyaannya adalah bahwa dapat saja yang mengakses bukanlah orang yang berada di daerah pemilihan (dapem) saudara. Percayalah bahwa mereka punya jaringan (milist) yang tentunya akan saling memberikan informasi kepada yang lain yang dapat saja adalah mereka yang ada pada dapem saudara. Dia saudara manfaatkan menjadikan tim promosi yang tanpa diminta (sukarelawan).

Ketiga, bentuklah tim pemasar diri (TPD). Istilah ini lebih dikenal dengan tim sukses (TS). Baik calon anggota DPR, DPRD maupun DPD wajib membentuk TPD.  Teristimewa terhadap calon anggota DPR atau DPRD yang berasal dari Parpol yang menetapkan bahwa peraih suara terbanyaklah yang akan diajukan menjadi calon tetap Parpol. Mengharapkan bahwa mesin Parpol yang akan bekerja untuk saudara tidak masanya lagi.

Dikatakan demikian, karena para pengurus partai pun dituntut akan bersikap netral. Pengurus partai tidak bisa lagi mengarahkan pemilih untuk memilih calon tertentu, karena setiap orang akan sama peluangnya. Hanya untuk calon anggota DPD yang berasal dari Parpol saja yang dapat menggunakan mesin politik dalam pemilihan nanti, dengan catatan bahwa untuk setiap propinsi, Parpol hanya memiliki satu calon saja. Sementara untuk calon anggota DPD yang bukan berasal dari Parpol sudah pasti  akan membentuk TPD-nya, karena cara ini akan sangat membantu untuk menjangkau wilayah propinsi yang sangat luas seperti Sumatera Utara.

Keempat, bertatap mukalah dengan pemilih. Cara ini adalah sebagai kelanjutan dari cara ketiga. Setelah TPD dibentuk, maka mereka akan bekerja untuk memasarkan siapa diri saudara sesungguhnya, apa sasaran, program dan hubungan saudara dengan pemilih pasca ditetapkannya saudara sebagai anggota DPR, DPRD atau DPD. Ingat bahwa sistem Pemilu anggota DPR, DPRD dan DPD saat ini sebenarnya sudah mengarah kepada sistem semi distrik (quasy district system), yang mensyaratkan bahwa pemilih sedapat mungkin mengenal lebih dekat siapa yang akan dipilihnya, paling tidak wajah atau orangnya. Jadi, jangan hanya sekedar menyebarkan kartu nama.

Kelima, buatkah kartu nama. Kartu nama memang perlu, tetapi bukanlah cara yang paling efektif meskipun pengaruhnya ada. Kartu nama hanya sebagai alat bantu kecil saja. Jika saudara harus mencetak kartu nama, buatlah isinya sesuai dengan segmen pemilih sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya. Jika kartu nama ditujukan untuk segmen pemilih dari kalangan intelektual, cantumkan kegiatan ilmiah apa saja yang sudah saudara lakukan. Jika tujuannya untuk segmen warga penduduk setempat atau lebih luas, cantumkan kegiatan sosial atau budaya apa saja yang pernah saudara lakukan. Jika segmen yang dituju adalah pemilih dari kalangan kegamaan, cantumkan kegiatan bidang keagamaan apa saja yang sudah saudara lakukan. Begitu seterusnya. Harap pula dicatat, hendaknya foto yang ada pada kartu namadalah foto diri saudara yang memang sudah dikenal publik selama ini atau foto yang telah saudara kirimkan ke KPU, KPU propinsi atau KPU kabupaten/kota. Foto terbaru bisa saja membuat pemilih yang sudah akrab dengan saudara akan merasa asing.

Keenam, buatlah spanduk atau baliho berjalan. Spanduk atau baliho model konvensional seperti menempelkan di pohon kayu atau dipajang di tempat tertentu sudah kurang efektif. Jumlah mereka yang melihat hanyalah yang kebetulan melintas di daerah dimana spanduk atau baliho ditempatkan. Cara yang paling kreatif adalah bekerja sama dengan becak motor atau angkutan kota/bus. Spanduk yang memuat partai, foto, nomor urut, caleg untuk propinsi atau kabupaten/kota dan dapem dibentuk seukuran dengan penutup becak motor bagian penumpangnya. Sementara untuk angkutan kota/bus dibuat dalam bentuk leaflet yang dapat ditempelkan. Kedua jenis kenderaan ini setiap hari akan bergerak ke berbagai tempat, sehingga untuk memperkenalkan saudara kepada publik akan semakin luas.

Ketujuh, kerjasama dengan sesama caleg satu Parpol yang berbeda sasaran. Maksudnya adalah bahwa untuk menekan biaya pengeluaran, saudara dapat bekerjasama dengan caleg separtai yang tentunya berbeda sasaran dengan saudara. Jika saudara caleg untuk propinsi, maka saudara dapat bekerjasama dengan caleg untuk pusat dan kabupaten/kota yang berada pada satu dapem. Bentuk kerjasama dapat dilakukan dalam bentuk mencetak kartu nama, spanduk atau baliho bersama. Cara ini mungkin saja dapat menimbulkan gesekan di antara caleg lain yang separtai dengan saudara, tetapi jika tujuannya adalah demi kepentingan perolehan kursi Parpol dan bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, keberatan dari caleg sesama Parpol atas cara yang saudara tempuh, menjadi sangat tidak beralasan.

Selamat mencoba!!!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: