Ternyata Politik itu Tidak Kotor

Politik itu kotor, jahat, dan penuh intrik,serta segudang sebutan negative lainnya- yang karenanya harus dihindarkan. Politik dianggap sebagai momok menakutkan dan sedapat mungkin harus menjauh darinya. Stigma seperti ini lama tersimpan di dalam benak masyarakat dan sangat mungkin hingga saat ini.

            Bagi mereka yang pernah mempelajari, tahu dan sadar tentang politik, tentunya akan memiliki pandangan yang sangat berbeda. Mereka berpendapat bahwa politik adalah seni (art). Meminjam pandangan Hans J. Morgenthau, politik memang berkaitan dengan cara bagaimana seseorang atau sekelompok orang meraih kekuasaan  dan kemudian mendistribusikannya kepada orang atau sekelompok orang lain yang seperjuangan atau memiliki paham yang sama dengannya. Politic is the struggle for power tegas Morgenthau. Meskipun politik berkaitan dengan perjuangan mencapai atau meraih kekuasaan, akan tetapi cara mencapai kekuasaan itu sesungguhnya diserta dengan etika. Itu artinya perjuangan mencapai kekuasaan itu bukannya dengan cara membabi buta , melainkan dibatasi oleh sebuah koridor yang dinamakan etika politik. Inilah sebelumnya bahwa politik adalah seni. Seni bagaimana kita menjaga irama agar peraihan kekuasaan itu dilakukan tanpa kecurangan, apakah dengan cara black campaign, personal assassination, dan lain sebagainya.

            Secara kebetulan atau tidak, bahwa menjelang pemilihan umum anggota legislatif pada tanggal 9 April 2009, fenomena bahwa seseorang semakin tertarik untuk masuk ke dalam dunia politik praktis (baca : menjadi calon legislatif), mengalami peningkatan dengan tajam. Peningkatan ini terjadi apakah disebabkan oleh karena adanya kesadaran bahwa politik itu adalah seni, atau politik hakekatnya adalah baik dan menjadi kotor adalah karena oknumnya, ataukah karena semakin banyaknya Partai Politik (Parpol) yang akan ikut Pemilu. Namun tidak pula menutup kemungkinan bahwa peningkatan itu terjadi karena Undang-undang Pemilu memberi peluang untuk itu.

            Faktanya adalah bahwa banyak anggota masyarakat yang sangat antusias untuk mendaftarkan diri menjadi caleg. Lebih menarik lagi Parpol peserta Pemilu pun pada saat ini beramai-ramai membuat iklan untuk menjaring caleg, khususnya dari kalangan perempuan. Tidak jarang kita melihat, baik di media cetak, elektronik dan spanduk-spanduk di tempat keramaian terbentang ajakan untuk dijadikan caleg dari Parpol tertentu. Banyaknya Parpol peserta Pemilu legislatif tahun 2009 dan adanya syarat jumlah caleg tertentu yang harus diusulkan untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten/Kota, memaksa Parpol melakukannya.

            Partai Amanat Nasional (PAN) misalnya, berusaha untuk menggaet caleg sebanyak mungkin terutama dari kalangan artis ibukota. Nyatanya, partai ini berhasil meyakinkan Wulan Guritno dan Zumarnis, dua artis ibukota, untuk dicalonkan PAN sebagai anggota DPR pada pemilu legislatif tahun 2009. Anehnya peristiwa ini kemudian menimbulkan pro-kontra, meskipun sebenarnya Parpol lain pada pemilu sebelumnya juga  melakukan hal yang sama. Apalagi adanya amanah Undang-undang No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD, bahwa suatu  Parpol harus mendaftarkan minimal 30 % caleg perempuan dari jumlah caleg yang diajukan oleh untuk didaftarkan menjadi anggota DPR. Persoalan apakah nantinya para artis akan paham dan piawai dalam menjalankan tugas setelah menjadi anggota DPR, tentunya akan dapat diatasi dengan melakukan pembekalan-pembekalan. Pastinya, para artis memang potensial untuk meraih suara, apalagi untuk mencapai suara minimal 30% dari BPP.  

Harap dicatat bahwa persyaratan dalam UU No. 10 Tahun 2008   Pasal 214 butir a UU No. 10 Tahun 2008 perihal penetapan calon terpilih untuk menjadi anggota legislatif menuntut Parpol harus mengajukan calon-calon yang memang potensial untuk menjaring suara. Untuk itulah setiap Parpol sangat tepat apabila merekrut orang-orang yang memang dikenal publik dan publik yakin bahwa orang dimaksud dapat membawa perubahan dan dapat memperjuangkan aspirasi mereka. Sebaliknya, apabila Parpol mencalonkan orang yang sama sekali kurang dikenal publik, tentunya Parpol dimaksud akan mengalami kesulitan untuk meraih suara yang besar. Sehingga risiko untuk tidak meraih ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2,5% dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR, akan semakin besar (Pasal 202 (ayat) 1).

 

Merubah Paradigma

 

            Pandangan keliru selama ini adalah bahwa politik biasanya dijadikan alat untuk meraih kekayaan. Artinya, seseorang memasuki dunia politik praktis dengan tujuan bahwa nantinya akan memberikan kekayaan. Meskipun dalam praktenya tesis ini sulit dibantah, tetapi pada hakekatnya bukanlah demikian. Berpolitik praktis dan kemudian menjadi anggota legislatif atau pejabat pemerintah sesungguhnya adalah dalam rangka menjalankan amanah, yaitu bagaimana membangun bangsa ini, mulai dari pelosok tanah air hingga ke pusat, agar bangsa ini menjadi maju dan disegani oleh bangsa lain.

            Jika kita menghitung dengan gaji dan tunjangan lain yang diterima anggota legislative atau pejabat pemerintah, sangat kecil kemungkinannya dapat menjadi kaya, kecuali sebelumnya memang sudah kaya. Jika memang kekayaan yang hendak dituju, inilah yang sesungguhnya menjadi akar masalah mengapa politik itu kemudian menjadi kotor, jahat dan penuh dengan intrik-intrik. Karena setiap orang -dengan tujuan menjadi kaya- tentunya akan melakukan tindakan menghalalkan segala cara untuk menjadi anggota legislatif atau pejabat pemerintah.

 

Catatan : Telah diterbitkan di harian Analisa pada Senin, 3 November 2008, hal. 28.

 

 

8 Tanggapan to “Ternyata Politik itu Tidak Kotor”

  1. Singal Says:

    Menurutku, sampai saat ini, memang politik itu omongkosong, membodohi rakyat dan tak berperasaan. Lihat saja pak, pupuk hilang, banjir, hutan ditebangi, jalan rusak, semrawut, gaji guru tidak memadai, dll., ini seolah olah dipelihara dan menjadi bagian dari produk mereka, untuk dipakai bermanis-manis, seperti datang membantu dan pakai upacara lagi.
    Tulisan bapak menurutku sangat bagus, tetapi ini hanya teori, dan tidak aplicable..hehehe. (maaf pak, negeri kita ini lebih cenderung menjadi negeri teori, negeri komentar, negeri kambing hitam daaan…negeri dendam, dari satu pemerintahan kepemerintahan lain, sehingga program kerja yang terencana tidak berkesinambungan)

    • marlanhutahaean Says:

      Ya…, apakah itu hanya teori atau apapun namanya, sebagai warga bangsa kita tidak boleh bosan mengingatkannya. Saya hanya punya modal untuk menuliskan saja, sebab saya tidak punya modal kekuasaan. Kita tidak boleh berhenti untuk secara terus-menerus mengetuk pintu hati mereka, dan itu akan lebih baik daripada kita given saja. Ido da bah.

  2. senopatiarthur Says:

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://politik.infogue.com/ternyata_politik_itu_tidak_kotor

  3. arifrahmanlubis Says:

    politik itu kan sarana saja.

    seperti tv. kotor tidaknya tergantung apa yg ditayangkan.

    saih ada kok (memang relatif kecil, jika dibandingkan keseluruhan) politikus bersih

  4. Makmur Siboro Says:

    Ternyata memang politik itu kotor kok, it is not pure as a struggle to the power of ideas of people, but they have a personal interest too. Kebanyakan politikus menurut saya ( meski perlu riset untuk ini) terlihat secara kasat mata, idealismenya hanya terlihat saat seseorang belum memperoleh apa yang diinginkannya berupa kekuasaan atau bentuk lain seperti menjadi Pimpinan Daerah, Dewan, dan lainnya. Tidak sedikit orang melakukan berbagai cara untuk memperoleh keinginan pribadi dengan cara-cara yang tidak elegan. Politikus ber-kharisma yang mempunyai talenta khusus masih sulit ditemui. Karbitan, lingkungan, trend menjadi politikus ternyata menjadi momen yang baik untuk di raih. Tidak salah memang, asal saja tetap pada idealisme perjuangan rakyat. Tetapi secara luas politik juga tidak hanya diimplementasikan oleh para anggota partai, dimana-mana praktek politik juga muncul, apakah di dunia kerja, pendidikan, keagamaan, dan semua bidang seringkali politik praktis bermain di situ dan di sinilah rakyat sering menilai bahwa berpolitik itu kotor tapi tidak najis. Kotor dalam arti penuh dengan intrik yang sarat dengan bumbu dan saos penyedap rasa lidah. Silat lidah, lihai bertutur kata, licin bagai belut dan bisa masuk kemana saja sesuai dengan kepentingannya. That is real politic… ha…ha…ha…… Ada kawan mau jadi rektor atau dekan saja harus ber “politik” lho…… dan itu…mau tidak mau, suka tidak suka, we can not avoid. Orang yang sangat rendah hati, penuh damai, sering menghindar dari konflik, tidak suka ber”politik”.

  5. marlanhutahaean Says:

    Thanks a lot untuk masukannya teman. Itu dia….tugas kita sebagai alumni FISIP memang salah satunya adalah bagaimana agar orang tidak mencampuradukkan antara politik akademik, politik praktis dan intrik. Contoh yang teman sampaikan itu sebenarnya bukan berpolitik tetapi lebih cocok jika disebut intrik, jadi saya setuju dengan tanda kutipnya. Hanya saja karena sudah berlaku umum disebutlah itu berpolitik. Istilah bahasa Batak dikatakan peol otik (penuh intrik). Apakah sesuatu yang utopia atau tidak, kita tidak boleh bosan untuk menyatakan bahwa politik itu sesungguhnya tidak kotor…yang kotor adalah oknum yang menjalankan politik itu. Intrik terjadi karena seseorang ingin menjadi sama dengan dunia ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: