Urgensi Perda tentang Penanggulangan Bencana di Sumatera Utara

Bencana, inilah kata atau kejadian yang akhir-akhir ini menjadi akrab didengar dan kita alami bersama. Meskipun bukan hal yang baru, tetapi menjadi sangat menakutkan, apalagi intensitas kejadiannya yang relatif tinggi. Pemerintah sendiri, yang sebelumnya menganggap peristiwa ini sebagai kejadian temporal dan hanya akan menghambat pembangunan sesaat, telah merubah pandangannya. Bencana dianggap sebagai hal yang tidak saja akan menghambat pembangunan, tetapi bahkan dapat menghancurkan dan menghilangkan nyawa manusia.

 

Sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam menangani bencana ini dapat dilihat dari dikeluarkannya Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada 26 April 2007. Penetapan undang-undang ini menjadi sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia karena dari banyak negara yang mengikuti pertemuan yang kemudian menghasilkan Kerangka Aksi Hyogo 2005-2015 di Jepang, Indonesia menjadi salah satu negara yang telah meratifikasinya. Disamping itu, keluarnya undang-undang ini juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepastian dalam mendapatkan perlindungan dari ancaman bencana.

 

Sayangnya kebijakan pemerintah ini tidak ditindaklanjuti dengan cepat oleh daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Artinya, setelah setahun lebih udang-undang ini berjalan, baru provinsi Sumatera Barat yang telah menindaklanjutinya yakni dengan mengeluarkan Peraturan Daerah  Penanggulangan Bencana (Perda PB), dan Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Bencana. Bagi daerah lain tentunya tindakan seperti ini harus segera dilakukan. Sebab, meskipun undang-undang tentang penanggulangan bencana telah dikeluarkan, untuk menjamin bahwa daerah provinsi dan kabupaten/kota juga memiliki komitmen dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakatnya dari ancaman bencana harus ditunjukkan melalui terbitnya Perda PB. Paling tidak ada tiga komponen kebijakan yang harus dirumuskan pada level daerah yakni, Perda, RAD dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tentang Penanggulangan bencana.

 

Bagaimana Daerah Sumatera Utara ?

Sumatera Utara (Sumut), merupakan daerah yang rentan terhadap terjadinya bencana. Data tahun 2008 ini saja menunjukkan adanya ragam bencana yang telah terjadi, seperti banjir, angin puting beliung, dan gempa bumi. Banjir misalnya, telah melanda beberapa daerah seperti Mandailing Natal, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Langkat yang telah merendam dan merusak ratusan rumah, sawah/kebun dan ternak masyarakat. Berikutnya bencana angin puting beliung pada Maret 2008 telah merusak 164 rumah penduduk di desa Tembung, kecamatan Percut Sei Tuan. Hal yang sama terjadi pula di kecamatan Secanggang, kabupaten Langkat  yang merusak 153 rumah dan di Sei Rampah merusakkan 2 rumah. Sementara itu, bencana yang baru-baru ini terjadi dapat dikatakan adalah bencana terburuk paruh 2008, yakni gempa tektonik di kota Padangsidimpuan, kabupaten Tapsel yang berdampak hingga ke  Sipirok, kabupaten Padang Lawas dan  kecamatan Simangumban, kabupaten Tapanuli Utara. Dikatakan terbesar karena bencana ini telah merusak  berbagai infrastruktur yang ada seperti pasar, jalan lintas sumatera, bangunan rumah, SD, rumah ibadah. Di kecamatan Simangumban misalnya, terdapat 24 buah bangunan yang rusak total, 89 rusak berat dan 233 rusak ringan.

 

Berbagai peristiwa bencana di atas dikaitkan dengan kebijakan PB, sudah sepantasnya pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumatera Utara sesegera mungkin memiliki Perda PB. Memang RAD provinsi Sumut 2008 – 2012 telah dirumuskan pada Nopember 2007 lalu oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), akan tetapi ini belum cukup, karena kepastian hukumnya masih lemah. Artinya, dukungan politik dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sangat diperlukan. Untuk itulah relevansi perlunya Perda PB sangat beralasan. Undang-undang no. 24 tahun 2007 sesungguhnya juga mengamanahkan agar pemerintah daerah merumuskan Perda PB. Hal ini dapat dilihat melalui Bab III pasal 8 yang menegaskan akan tanggung jawab pemerintah daerah dalam penyelenggaraan PB. Kemudian Bab IV pasal 18 ayat (1) dan (2) yang mengatur tentang perlunya pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, baik pada level provinsi maupun kabupaten/kota.

 

Perda PB akan memberikan beberapa implikasi, pertama, adanya  kepastian hukum bahwa masyarakat Sumut dilidungi pemerintah daerahnya dari ancaman bencana. Kedua,  pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Sumut tidak lagi menganggap bahwa bencana adalah urusannya pemerintah pusat, melainkan menjadi tanggung jawabnya. Apalagi jika dilihat dari konsekuensi diterapkannya otonomi daerah sebagaimana diatur pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Melalui demokratisasi dan otonomi daerah, akuntabilitas pemerintah daerah bergeser  lebih dekat kepada konstituen. Pemerintah daerah adalah pihak yang diberi mandat oleh konstituennya untuk, antara lain menciptakan dan membagi kesejahteraan, serta memastikan perlindungan. Penanggulangan bencana merupakan salah satu perwujudan fungsi pemerintah daerah dalam perlindungan masyarakat. Ketiga, adanya dukungan politik yang kuat dan kepastian anggaran karena DPRD juga menjadi memiliki tanggung jawab yang sama dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Keempat, dimulainya perubahan paradigma terhadap penanggulangan bencana dari yang sebelumnya dititikberatkan pada tahap tanggap darurat (saat terjadi bencana) kepada pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan (pra bencana). Melalui perubahan paradigma ini berarti masyarakat (pihak yang akan terkena dampak), akan dimampukan untuk mengetahui lebih awal tentang bencana apa saja yang mungkin akan terjadi, jenis bencana apa yang dapat dicegah, dan bagaimana cara mengatasi jika bencana benar-benar terjadi. Dengan demikian, masyarakat yang akan terkena dampak bencana tidak lagi selalu menggantungkan harapannya kepada pemerintah atau pemerintah daerah dan sebaliknya pemerintah atau pemerintah daerah bukan lagi pihak yang paling dominan dalam penanggulangan bencana.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: