Sisi Lain Kebijakan Konversi Minyak Tanah ke Gas

Kebijakan konversi penggunaan bahan bakar minyak ke bahan bakar gas untuk masyarakat telah diimplementasikan beberapa bulan yang lalu oleh pemerintah bersama-sama dengan pihak pertamina. Kebijakan yang diberlakukan mulai dari Jakarta ini kemudian dilanjutkan ke kota-kota lainnya di Indonesia termasuk Medan. Namun demikian, kita sangat dikejutkan karena kebijakan yang oleh pemerintah dianggap baik  ini ternyata dalam implementasinya banyak mendapat tantangan dari masyarakat pengguna. Ragam alasan mengapa anggota masyarakat menolak kebijakan ini, akan tetapi tampaknya alasan yang paling kuat adalah belum terbiasanya mereka menggunakannya dan adanya ketakutan akan potensi terjadinya ledakan. Hal ini mengingat masih kuatnya anggapan masyarakat bahwa bahan bakar gas lebih berpeluang mengakibatkan terjadinya ledakan dibandingkan jika mereka menggunakan minyak tanah.

 

Model Elite

 

Munculnya berbagai penolakan tadi, seperti pengembalian kompor gas gratis, ditengarai bahwa kebijakan ini bukan berasal dari anggota masyarakat pengguna. Artinya, sesungguhnya selama ini tidak ada masalah jika anggota masyarakat menggunakan bahan bakar minyak tanah untuk memasak bagi keperluan hidupnya. Masalah yang ada selama ini adalah terjadinya kelangkaan minyak tanah, sehingga mereka merasa kesulitan untuk mendapatkannya. Kalaupun ada harganya pasti sudah melambung tinggi. Dengan harga yang tinggi tersebut pun sesungguhnya mereka tetap masih setia untuk menggunakan bahan bakar minyak tanah. Hal ini terjadi karena mereka sudah puluhan tahun atau bahkan sudah turun-temurun menggunakan bahan bakar ini. Kita hampir tidak pernah mendengar bahwa akibat kelangkaan bahan bakar minyak tanah itu mereka menginginkan agar dikonversi dengan bahan bakar lain, seperti bahan bakar gas. Mereka hanya menginginkan agar pemerintah bersama pertamina benar-benar melakukan pengawasan terhadap distribusi bahan bakar minyak tanah yang dilakukan oleh pemilik pangkalan. Itu saja!

Ternyata, kelangkaan bahan bakar minyak tanah ini ditanggapi berbeda oleh pemerintah. Pemerintah bukannya melakukan pengawasan yang ketat terhadap distribusi bahan bakar minyak tanah yang dilakukan oleh para pemilik pangkalan, tetapi malah membuat skenario untuk mengganti atau mengkonversi bahan bakar minyak tanah ini ke bahan bakar gas. Pemerintah merasa bahwa dengan melakukan konversi masalah yang terjadi dalam masyarakat terkait bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan terselesaikan. Akhirnya, ditetapkanlah kebijakan ini.

Beberapa pertanyaan patut diajukan terkait kebijakan ini adalah apakah cadangan bahan bakar minyak tanah sudah semakin menipis ? Sebaliknya, apakah cadangan bahan bakar gas cukup untuk seterusnya? Apakah dengan menggunakan bahan bakar gas akan lebih efisien, praktis, murah dan gampang memperolehnya? Pertanyaan yang lebih mendalam lagi apakah anggota masyarakat benar-benar menginginkan dilakukannya konversi energi ini? Jika tidak, jangan-jangan kebijakan ini dilakukan oleh karena adanya “tekanan” dari kalangan elite tertentu yang ingin meraih keuntungan.

 

Kebijakan Merubah Perilaku

 

Jika dilihat dari substansinya, kebijakan ini akan memberi dampak pada perubahan perilaku anggota masyarakat. Biasanya kebijakan yang bertujuan untuk merubah perilaku akan sangat sulit untuk diimplementasikan, terutama di awal-awal implementasi. Kalaupun kemudian diimplementasikan cenderung akan banyak mengalami hambatan seperti penolakan. Dalam kasus seperti ini, pemerintah sebagai pihak yang memformulasikan kebijakan biasanya cenderung akan memaksakannya.

Peristiwa seperti ini telah kita alami manakala pemerintah membuat kebijakan yang bertujuan untuk merubah perilaku. Sebut saja program keluarga berencana yang membatasi jumlah anak pada setiap keluarga yang hanya dua orang saja, laki-laki atau perempuan dianggap sama. Bisa dibayangkan, kebiasaan keluarga yang biasanya memiliki anak lebih dari dua orang dipaksa untuk menyesuaikan dengan kebijakan tersebut. Tentu saja banyak kalangan masyarakat yang tidak setuju dengan cara itu, apalagi anak dianggap sebagai pemerian Tuhan. Akan tetapi, karena sudah menjadi kebijakan terpaksa dijalankan.

Demikian pula ketika pemerintah menerapkan penggunaan teknologi dalam sektor pertanian yang kemudian menghasilkan tanam-tanaman seperti sayuran  dari organic menjadi un-organic. Pupuk kompos digantikan dengan pupuk “modern”. Masih kita ingat pula ketika pemerintah  memaksakan penggunaan pupuk urea tablet oleh para petani. Padahal para ahli pertanian dan petani sendiri mengatakan bahwa penggunakan pupuk itu tidak akan memberikan hasil yang lebih baik.

Kebijakan konversi energi ini pun arahnya demikian. Anggota masyarakat yang telah turun-temurun atau bahkan telah bertahun-tahun menggunakan bahan bakar minyak tanah tiba-tiba harus beralih menggunakan bahan bakar gas yang sama sekali belum pernah menggunakannya. Kebingungan, kecemasan, dan bahkan ketakutan sangat wajar menghantui mereka. Kekhawatiran paling besar adalah menyangkut kemungkinan terjadinya ledakan sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

 

Pemberlakuan Bertahap

 

Oleh karena kebijakan ini nyata-nyata akan merubah perilaku anggota masyarakat pengguna, akan lebih bijaksana apabila implementasinya dilakukan secara bertahap. Anggota masyarakat pada sebuah kelurahan misalnya, dapat dijadikan proyek percontohan. Apabila dari proyek percontohan ini dapat dibuktikan bahwa pemakaian bahan bakar gas jauh lebih efisien, praktis, murah dan minim bahaya, anggota masyarakat lainnya tentu akan berlomba-lomba untuk secara sadar dan sukarela melakukan konversi energi. Hal ini tentu akan sangat berbeda jika langsung diimplementasikan tanpa memperhatikan apakah anggota masyarakat sudah siap atau tidak untuk menggunakannya. Jadi, sebelum anggota masyarakat benar-benar siap, pemerintah bersama pertamina hendaknya jangan terburu-buru untuk mengurangi distribusi minyak tanah ke masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: