Cerita Kacang Kedelai dan Hi-Tech

Kisruh kenaikan harga bahan pokok menjadi berita pahit diakhir tahun 2007 dan di awal tahun 2008. Betapa tidak, peristiwa yang tidak mengenakkan ini justru terjadi pada saat pemerintah mencanangkan penurunan angka kemiskinan dan pengangguran dan sebaliknya meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan tripple track strategy. Untuk itulah pada Agustus 2007 di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), presiden menegaskan kembali bahwa dalam proses pembangunannya pemerintah menerapkan peradigma pembangunan pertumbuhan dengan pemerataan (growth with equity).

Di tiga tahun pertama pertumbuhan ekonomi cukup berhasil dicapai oleh pemerintah, akan tetapi sangat disayangkan angka pengangguran masih sulit diturunkan demikian juga jumlah masyarakat miskin. Apalagi kejadian belakangan ini, harga kacang kedelai yang melonjak sangat tajam tentunya akan menambah angka pengangguran dan kemiskinan. Mereka yang tadinya bekerja di sektor informal seperti pembuat dan penjual gorengan tahu dan tempe terancam bangkrut karena biaya yang dikeluarkan sudah lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh. Seorang penjual gorengan tahu dan tempe misalnya, dengan pengeluaran  biaya sebesar Rp 50.000,-;  hanya memperoleh hasil penjualan sebesar Rp 35.000,-. Kalau setiap hari harus merugi pastilah mereka akan meninggalkan perkejaan ini. Masalahnya adalah mereka mau kerja apalagi?

 

Bias Kebijakan

Pada sekitar tahun 1970-an pemerintah Indonesia  mulai memperkenalkan  istilah high technology (hi-tech). Istilah ini terus menggema dan mendapat apresiasi yang luar biasa, termasuk dari presiden pada saat itu. Melalui Kementrian  Riset dan teknologi saat itu mulailah gagasan atau ide itu diwujudnyatakan. Agar menjadi sejajar dan disegani oleh negara-negara maju, pemerintah Indonesia berkeyakinan bahwa jalan tersebut harus ditempuh dengan mengembangkan hi-tech. Untuk itu mulailah disusun industri-industri strategis yang salah satunya diantaranya adalah dengan mendirikan pabrik/industri pesawat terbang bekerja sama dengan CASA Spanyol melalui PT. Nurtanio di Bandung. Dengan konsentrasi ke hi-tech tadi, maka sudah barang tentu perhatian terhadap teknologi tepat guna yang sangat dibutuhkan oleh petani menjadi agak terabaikan. Meskipun ada, hal itu tidak sederas pengembangan riset pada hi-tech.

Waktu pun berlalu, satu demi satu pesawat diproduksi. Masih kental dalam ingatan kita bahwa pesawat perdana yang dihasilkan adalah jenis CN 235 dan diberi nama Tetuko (mengambil istilah Jawa). Sebagai anak bangsa waktu itu kita sangat bangga, karena anak-anak Indonesia akhirnya dapat menciptakan pesawat terbang. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan yang memang sangat membutuhkan jenis pesawat ini. Namun, kegembiraan itu sepertinya tidak bertahan lama, karena muncul persoalan yakni dalam hal pemasarannya. Berkompetisi dengan industri pesawat lain dari negara maju yang sudah lebih dahulu bermain di pasar, tentunya tidak gampang untuk memasarkan pesawat kita. Persoalan itu bertambah lagi, manakala terjadi pemutusan hubungan kerja secara massal kepada ribuan tenaga kerjanya. Terakhir, (setelah berganti nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia (DI)) industri pesawat ini pun pernah dipailitkan oleh pengadilan niaga (meskipun akhirnya pemerintah menalanginya sehingga batal dipailitkan) karena dianggap tidak mampu membayar uang PHK mantan karyawannya.

Terkait dengan pemasaran pesawat ini, ada satu kejadian yang sangat mencengangkan kita, yaitu dibelinya pesawat produk DI oleh salah satu negara di ASEAN bukan dengan uang, tetapi melalui cara barter dengan kacang kedelai. Maka, tidak pelak lagi muncul berbagai komentar saat itu, “mengapa kita (Indonesia) harus susah-susah membuat pesawat terbang dengan biaya yang tinggi kalau kemudian hanya dibarter dengan kacang kedelai.” “Lebih baik kita mendorong petani untuk menanam kacang kedelai dan kemudian menciptakan teknologi tepat guna yang dapat membantu mereka untuk meningkatkan produktivitasnya.”  Waktu itu pemerintah menjawab bahwa penjualan pesawat melalui cara barter dengan kacang kedelai, maka Indonesia akan memiliki stok yang cukup untuk jangka waktu yang lama.

 

 

 

 

Nyatanya kekhawatiran dan komentar banyak orang pada waktu itu mendekati kebenaran. Di satu sisi gelegar industri pesawat terbang kita semakin redup dan di sisi lain kacang kedelai mengalami kelangkaan. Kelangkaan kacang kedelai di pasar mengakibatkan harga membubung tinggi seperti yang baru-baru ini terjadi. Akhirnya kita mencoba untuk merenung kembali, mana yang kita pilih kembali ke habitat pertanian atau meneruskan hi-tech?

 

Kebijakan Jalan Tengah

Kita sudah terlanjur masuk ke industri hi-tech dan hampir meninggalkan basis sektor pertanian. Mundur untuk kembali konsentrasi ke sektor pertanian tentunya bukanlah tindakan bijak. Hal yang sama juga berlaku jika kita terlalu konsentrasi pada pengembangan hi-tech. Tindakan yang bijak tentunya adalah bagaimana mensinergikan pengembangan teknologi yang dapat sekaligus mendorong sektor pertanian.

Kebijakan lain yang harus dilakukan adalah dengan memberikan insentif kepada petani. Mereka yang diajak kembali untuk menanam kacang kedelai atau jenis lain harus diberikan subsidi apakah berupa dana hibah atau pinjaman lunak. Di samping itu pemerintah juga harus memberikan jaminan kepada petani seperti adanya kepastian akan ditampungnya seluruh produksi, adanya kestabilan harga, adanya bantuan bibit dan pupuk. Jangan setelah panen raya, harga kacang kedelai menurun drastis. Harap dicatat bahwa Amerika sebagai negara maju pun  tetap saja mendorong petaninya untuk tetap menanam kacang kedelai. Agar masyarakatnya mau melakukannya, pemerintah tidak segan-segan memberikan subsidi kepada petaninya. Kebijakan ini ternyata efektif. Buktinya adalah bahwa yang menikmati hasil atas melonjaknya harga kacang kedelai di Indonesia adalah petani Amerika.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: