Growth with Equito Paradigm

Salah satu isu menarik yang disinggung oleh presiden dalam pidato kenegaraan di depan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) pada tanggal 16 Agustus 2007 adalah pilihan terhadap paradigma pembangunan. Isu ini menjadi penting karena apapun yang hendak dicapai sangat tergantung pada paradigma pembangunan apa yang dipilih. Memang paradigma pembangunan bukanlah panacea yang dapat dijadikan obat mujarab dalam mengatasi setiap problema pembangunan yang kita hadapi.

Pilihan Paradigma Pembangunan Masa Lalu

 

Baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru, pemerintah telah memilih paradigma dalam mengisi pembangunannya. Pemerintahan Soekarno lebih memilih paradigma yang menitikberatkan pada pembangunan politik daripada ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah Politik sebagai Panglima. Pada masa ini, kondisi ekonomi sangat terpuruk dan terjadi deflasi. Sementara itu, pemerintahan Soeharto lebih memilih paradigma yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi yang kemudian dikenal dengan paradigma pertumbuhan (baca : pertumbuhan ekonomi).

 

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi, pemerintah pada masa itu menyusun Program Pembangunan Jangka Panjang tahap I (PJP-I) 1969 – 1994. Kemudian, program ini diturunkan ke dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan selanjutnya dituangkan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tiap tahunnya. Dalam operasionalnya, pemerintah membuat konsep Tri Logi Pembangunan, yang terdiri atas, (1) Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, (2) Stabilitas keamanan, dan (3) Pemerataan. Urutan ini belangsung lama, dan baru pada saat memasuki akhir PJP I urutannya menjadi pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas.

 

Pemerataan, menurut pemerintah pada masa itu, dapat dicapai melalui trickle-down effect (efek penetesan ke bawah). Argumennya adalah setelah “kue pembangunan”  besar, maka kemudian dengan sendirinya akan terdistribusi kepada masyarakat. Pada kenyataannya konsep di atas gagal, karena pada akhirnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Konkritnya, yang terjadi bukannya trickle-down effect, melainkan trickle-up effect, yakni yang miskin mensubsidi yang kaya. Argumennya, petani atau nelayan menjual beras dan ikan dengan harga yang murah sehingga warung nasi masih bisa menjualnya dengan harga yang dapat dijangkau karyawan pabrik/perusahaan. Oleh karena masih dapat dijangkau, maka pemilik pabrik/perusahaan “tidak harus dipaksa” untuk menaikkan gaji karyawannya. Coba misalnya yang terjadi adalah sebaliknya, mau tidak mau, maka beban pabrik/perusahaan akan semakin besar, khususnya untuk gaji.

 

 

 

 

Paradigma Baru Stock Lama

 

Dalam pidatonya presiden menyatakan bahwa pemerintah dalam melaksanakan pembangunannya melalui strategi pembangunan yang berorientasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang disertai pemerataan atau growth with equito.  Dilihat dari pendekatan teori pembangunan pilihan strategi ini disebut paradigma neo-ekonomi.

 

Paradigma ini muncul karena adanya berbagai kelemahan dalam paradigma pertumbuhan, utamanya adalah ketidakpeduliannya  pada permasalahan tentang who gets what, and how much. Karenanya, Dudley Seers, mantan Rektor Universitas Sussex, bersama tokoh lainnya memprakarsai perlunya paradigma baru dalam pembangunan. Pertumbuhan ekonomi  sebesar 5% atau lebih pada tahun 1950-an dan 1960-an sebagaimana ditargetkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada kenyataannya tidak merubah nasib rakyat miskin. Untuk maksud tersebut, Seers meredefinisi konsep pembangunan. Menurutnya pembangunan ekonomi harus didefinisikan kembali sebagai pemberantasan atau penurunan kemiskinan, ketimpangan dan pengangguran dalam konteks pertumbuhan ekonomi.  Intinya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sangat penting, tetapi harus ditanyakan lebih jauh, apakah pertumbuhan itu pada akhirnya mengentaskan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan.   

 

Menanti Implementasi

 

Dari kacamata kebijakan publik, biasanya tahapan paling krusial yang harus mendapat perhatian adalah tahap implementasi (delivery process). Dikatakan demikian, karena pada tahap ini biasanya akan muncul hambatan-hambatan. Hambatan itu dapat berasal dari sikap implementor, organ yang melaksanakan, dan lingkungan. Pertanyaan bagi implementor antara lain apakah mereka memahami benar maksud presiden? Apakah mereka akan komit dalam melaksanakannya? Apakah mereka dapat mengutamakan kepentingan masyarakat? Kemudian, pertanyaan terkait organ pelaksana antara lain siapa yang akan menjalankan kebijakan/program dimaksud, apakah pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan/atau masyarakat. Ini penting, karena tidak semua program efektif jika dijalankan oleh organ pemerintah. Terakhir, pertanyaan terkait lingkungan antara lain bagaimana kondisi dalam negeri, seperti ekonomi, politik, hukum, keamanan, dan kondisi global. Kondisi lingkungan yang berubah tentunya akan mempengaruhi pencapaian sasaran dan tujuan.

 

Sebagai anggota masyarakat tentunya pilihan paradigma di atas patut didukung, meskipun sebenarnya bukanlah hal yang baru. Negara-negara sedang berkembang lain, sesungguhnya telah lama menerapkannya dan hasilnya sangat signifikan. Dengan jumlah penduduk miskin sebesar 35,1 juta jiwa atau 15,96% (Bappenas, 2005), tingkat penggaguran yang cukup tinggi dan ketimpangan sosial dan ekonomi yang semakin besar, mengharuskan keseriusan pemerintah dalam arti luas untuk melaksanakan paradigma ini. Tidak waktunya lagi kita hanya mewacanakan, tetapi harus diwujudnyatakan. Untuk itu, sesungguhnya seluruh departemen dan non-departemen pada semua level, pemerintah daerah, DPR RI, DPD dan elemen lainnya harus memiliki persepsi yang sama dengan kebijakan yang dipilih ini. Dengan demikian, untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang bukan lagi hanya isapan jempol.

2 Tanggapan to “Growth with Equito Paradigm”

  1. Mr WordPress Says:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. marlanhutahaean Says:

    Ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: